Pengertian Manajemen Risiko adalah: Jenis, Tujuan, Elemen, Proses

Rate this post

Dalam kegiatan sehari-hari kita sudah sangat akrab dengan risiko. Misalnya saat akan mandi, kita berisiko terpeleset lantai licin. Saat sedang berjalan kita berisiko tertabrak atau menabrak sesuatu. Apalagi dalam bisnis dan marketing setiap tindakan kita akan menghadapi berbagai risiko.

Manajemen risiko menjadi hal yang saat ini banyak dibahas karena sering digunakan dalam beberapa situasi tertentu. Pentingnya manajemen risiko tentu bukan tanpa alasan. Hidup yang senantiasa berhadapan dengan resiko memang sudah seharusnya bisa mengatur banyak hal dengan memahami apa itu manajemen risiko dan apa tujuannya yang sebenarnya.

Secara umum, manajemen risiko ialah suatu pendekatan terstruktur maupun metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang tentu saja berkaitan dengan yang namanya ancaman. Suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk penilaian risiko, pengembangan beberapa strategi untuk pengolahannya serta mengurangi risiko dengan pemberdayaan dan juga pengelolaan sumberdaya.

Strategi yang bisa diambil antara lain ialah memindahkan risiko kepada pihak lain, mengurangi berbagai efek negatif risiko ,menghindari risiko, dan juga menampung sebagian maupun semua yang sudah menjadi konsekuensi atas risiko-resiko tertentu.

Manajemen strategi pengurangan risiko tradisional akan terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik maupun legal seperti halnya bencana alam maupun kebakaran, kematian, serta juga tuntutan hukum. Biasanya dalam manajemen risiko pdf hal ini akan turut dibahas.

Di sisi lain, terfokus pada risiko yang bisa dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan. Terkait dengan sasaran, manajemen risiko ini bertujuan untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang masih berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang bisa diterima oleh masyarakat.

Hal ini pun bisa berupa jenis ancaman yang disebabkan oleh teknologi, manusia, lingkungan, organisasi dan juga politik. Pelaksanaan manajemen risiko bisa melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko.

Setiap tindakan yang kita ambil pasti berisiko. Entah itu risikonya kecil atau besar. Karena itu kita perlu memanajemen risiko agar bisa mengurangi dan mengatasi risiko yang kita hadapi. Nah sebelum kita tahu bagaimana caranya melakukan manajemen risiko kita harus tahu apa itu manajemen risiko.

Definisi Risiko Menurut KBBI

Manajemen risiko terdiri dari dua kata berbeda. Seperti yang kita tahu manajemen secara umum berarti mengorganisir. Sedangkan dalam KBBI kata risiko berarti : akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Dalam bisnis sendiri, risiko berkaitan dengan hasil aktual yang tidak sesuai dengan hasil harapan.

Artikel Lain : Konsep Manajemen Menurut Henry Fayol dan Fungsinya

Definisi Umum Manajemen Risiko

Jadi bagaimana dengan manajemen resiko? Seperti yang dikutip dari businessdictionary.com, manajemen risiko adalah proses identifikasi, analisis, penilaian, pengendalian, dan penghindaran, minimalisasi, atau penghapusan risiko yang tidak dapat diterima.

Manajemen risiko biasanya dilakukan oleh investor atau fund manager saat melakukan analisis untuk mengukur potensi kerugian dalam investasi. Kemudian mereka mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan tujuan investasi dan toleransi risiko yang telah dianalisis.

Kategori risiko yang bisa ditoleransi ini bisa dilihat dari besarnya risiko yang dihadapi. Biasanya risiko dengan tingkat bahaya yang kecil akan dibiarkan. Namun berbeda dengan hal dengan risiko besar sebagian besar perusahaan akan menghindarinya kalaupun tidak dihindari perusahaan harus menyiapkan strategi yang sangat hati-hati.

Artikel Lain : Info Lengkap Manajemen Modal Kerja, Pengertian dan Manfaatnya

Pengertian Manajemen Risiko Menurut Ahli

Berikutnya adalah mengetahui pengertian manajemen risiko menurut para ahli. Adapun beberapa ahli yang mengutarakan pendapatnya adalah sebagai berikut:

1. Fahmi

Menurut Fahmi “manajemen risiko adalah bidang ilmu yang secara spesifik membahas mengenai bagaimana organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan semua permasalahan dengan menggunakan pendekatan manajemen secara sistematis dan komprehensif”.

2. Djojosoedarso

Menurut Djojosoedarso, “manajemen risiko adalah pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan risiko, terutama risiko yang dihadapi oleh organisasi/perusahaan, keluarga dan masyarakat”.

3. Tampubolon

Menurut Tampubolon, “pengertian manajemen risiko adalah proses yang terarah dan bersifat proaktif yang bertujuan untuk mengakomodasi kemungkinan gagal pada salah satu atau sebagian dari sebuah transaksi atau instrumen”.

4. Dorfman

Menurut Dorfman “manajemen risiko adalah suatu proses logis dalam usaha untuk memahami eksposur terhadap suatu kerugian”.

5. Smith

Menurut Smith, “manajemen risiko adalah proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau proyek yang bisa mengakibatkan kerugian perusahaan”.

6. Djohanputro

Menurut Djohanputro, “manajemen risiko adalah proses identifikasi, mengukur, memetakan, mengembangkan alternatif penanganan risiko, memonitor dan pengendalian penanganan risiko, yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis”. Dalam makalah manajemen risiko, pendapat ini juga akan selalu ditemukan.

Jenis Manajemen Risiko

Berikutnya adalah membahas mengenai jenis manajemen risiko yang terdiri atas:

1. Manajemen Risiko Operasional

Pertama, Manajemen Risiko Operasional yang berkaitan dengan resiko yang timbul sebagai akibat gagal fungsi proses internal, misalnya saja dikarenakan  human error, kegagalan sistem, faktor luar seperti bencana dan lain sebagainya. Dalam manajemen risiko operasional, terdapat 4 faktor penyebab resiko antara yakni proses,  manusia, sistem dan juga kejadian eksternal.

2. Manajemen hazard

Kedua, Manajemen hazard yang berkaitan dengan kondisi potensial yang bisa mengakibatkan kebangkrutan dan juga kerusakan. Ketika membahas hazard, tentu saja turut membahas peril.

Risiko perilaku yakni peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian bisnis. Dalam hal ini terdapat tiga macam hazard yang memang harus diketahui, antara lain physical hazard, moral hazard dan legal hazard.

3. Manajemen Resiko Finansial

Ketiga, Manajemen Resiko Finansial yakni  upaya pengawasan risiko dan juga perlindungan hak milik, keuntungan, harta dan juga aset sebuah badan usaha.

Pada prakteknya, proses pengelolaan risiko ini akan meliputi identifikasi, evaluasi dan melakukan pengendalian resiko apabila ditemukan hal yang mengancam keberlangsungan organisasi. Biasanya hal ini juga akan diterapkan untuk manajemen risiko perusahaan. Ada beberapa risiko yang terkait dengan finansial ini yaitu:

  • Resiko likuiditas
  • Resiko akuntansi
  • Diskontinuitas pasar
  • Risiko regulasi
  • Resiko kredit
  • Resiko akuntansi
  • Resiko pajak

4. Manajemen Resiko Strategis

Keempat manajemen resiko strategis yakni  berkaitan dengan pengambilan sebuah atau beberapa keputusan. Resiko yang pada muncul ialah  kondisi tidak terduga yang bisa mengurangi kemampuan pelaku bisnis dalam menjalankan strategi yang direncanakan.

Dalam hal ini terdapat beberapa faktor seperti resiko operasi, resiko kompetitif , resiko asset impairment, bahkan juga  resiko frenchise jika memang ada.

Tujuan Manajemen Risiko

Sebuah manajemen memang selalu memiliki memiliki tujuan, tidak terkecuali manajemen risiko. Beberapa tujuannya adalah sebagai berikut:

1. Melindungi Perusahaan

Melindungi Perusahaan dalam hal ini, manajemen akan memberikan perlindungan terhadap perusahaan dari tingkat risiko signifikan yang bisa menghambat proses pencapaian tujuan perusahaan.

2. Membuat Kerangka Kerja

Membantu Pembuatan Kerangka Kerja dimana dalam proses pembuatan kerangka kerja manajemen risiko ini dilakukan secara konsisten atas risiko yang ada pada proses bisnis dan juga fungsi-fungsi di dalam sebuah perusahaan.

3. Supaya Pro Aktif

Tujuan manajemen risiko selanjutnya ialah mendorong manajemen Agar Proaktif dalam mengurangi potensi risiko, dan juga menjadikan manajemen risiko sebagai sumber keunggulan bersaing dalam kinerja sebuah perusahaan.

4. Lebih Hati-Hati

Sebagai peringatan untuk berhati-hati guna mendorong semua individu dalam perusahaan supaya bertindak hati-hati dalam menghadapi risiko perusahaan agar tercapai tujuan yang diinginkan bersama.

5. Meningkatkan Kinerja

Dapat meningkatkan kinerja perusahaan dimana dalam membantu meningkatkan kinerja perusahaan dengan cara menyediakan informasi tingkat risiko yang disebutkan dalam peta risiko atau yang biasa disebut dengan risk map.

Hal ini juga berguna dalam hal pengembangan strategi dan perbaikan proses risk management secara berkelanjutan. Dalam manajemen risiko perbankan, hal ini juga sering dirasakan manfaatnya.

6. Sosialisasi

Bisa mensosialisasikan Manajemen Risiko dimana dalam hal ini dibangun kemampuan individu maupun manajemen guna mensosialisasikan pemahaman tentang risiko dan pentingnya risk management.

Komponen Manajemen Risiko

Proses Manajemen Risiko
Gambar SIklus Proses Manajemen Risiko

Untuk melakukan manajemen risiko kita perlu melelui beberapa proses. Seperti yang dikutip dari id.wikipedia.org, COSO atau  Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission menyebutkan ada delapan kerangka yang berkaitan dalam Manajemen Risiko Korporasi (MRK) yaitu

  1. Lingkungan internal (internal environment)
  2. Penentuan sasaran (objective setting)
  3. Identifikasi peristiwa (event identification)
  4. Penilaian risiko (risk assessment)
  5. Tanggapan risiko (risk response)
  6. Aktivitas pengendalian (control activities)
  7. Informasi dan komunikasi (information and communication)
  8. Pemantauan (monitoring)

1. Lingkungan Internal (Internal Environment)

Proses pertama ini berkaitan dengan lingkungan perusahaan beroperasi. Mulai dari risk-management philosophy, integrity, risk-perspective, risk-appetite (penerimaan risiko), ethical values, struktur organisasi, hingga pendelegasian wewenang yang dilakukan oleh perusahaan.

Artikel Lain : Apa dan Bagaimana Manajemen SDM itu?

2. Penentuan sasaran (objective setting)

Langkah selanjutnya adalah penentuan tujuan dari organisasi agar risiko dapat didentifikasi, diakses, dan dikelola sesuai dengan tujuan tersebut. Objective ini bisa kita klasifikasikan menjadi dua yaitu strategic objective yang berfokus pada perwujudan visi misi dan activity objective bertujuan pada aktivitas seperti operasi, reportasi, dan kompliansi.

3. Identifikasi peristiwa (event identification)

Berikutnya adalah mengidentifikasi kejadian-kejadian potensial yang mempengaruhi strategi atau pencapaian tujuan dari organisasi. Kejadian tidak pasti tersebut bisa berdampak positif (opportunities), namun dapat pula sebaliknya yang lebih sering kita sebut sebagai risiko (risks).

4. Penilaian risiko (risk assessment)

Langkah ini menilai sejauh mana kejadian atau keadaan tadi dapat mengganggu pencapaian tujuan. Besarnya dampak dapat dianalisis melelui dua perspektif, yaitu: likelihood (kecenderungan atau peluang) dan impact/consequence (besaran dari terealisirnya risiko).

Artikel Lain : Cara Sederhana Manajemen Bisnis

5. Tanggapan risiko (risk response)

Setelah itu organisasi harus menentukan sikap atas hasil penilaian risiko. Tanggapan ini dapat berupa menghindari (avoidance) risiko, mengurangi (reduction) risiko, memindahkan (sharing) risiko, dan menerima (acceptance) risiko, tergantung dengan risiko yang dihadapi.

6. Aktivitas pengendalian (control activities)

Proses ini berperanan dalam penyusunan kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur untuk menjamin risk response terlaksana dengan efektif. Aktifitas pengendalian ini berupa pembuatan kebijakan dan prosedur, pengamanan kekayaan organisasi, delegasi wewenang dan pemisahan fungsi, dan supervisi atasan.

7. Informasi dan komunikasi (information and communication)

Fokus dari langkah ini adalah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak terkait melalui media komunikasi yang sesuai dan tepat. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyampaiaan informasi dan komunikasi adalah kualitas informasi, arah komunikasi, dan alat komunikasi.

Artikel Lain : Mari Berhemat dengan Manajemen Energi

8. Pemantauan (monitoring)

Langkah terakhir adalah monitoring. Monitoring dapat dilaksanakan baik secara terus menerus (ongoing) maupun terpisah (separate evaluation). Pada proses monitoring, perlu dicermati adanya kendala seperti reporting deficiencies, yaitu pelaporan yang tidak lengkap atau bahkan berlebihan (tidak relevan).

Tiga Langkah Efektifkan Mananjemen Risiko

Delapan proses tadi bisa dibilang cukup panjang. Agar lebih mudah kita akan meringkas kedelapan langkah tadi menjadi tiga langkah yang bisa mengefektifkan manajemen risiko. Dikutip dari business.tutsplus.com, ketiga langkah tersebut yaitu perencanaan, penanganan, dan monitoring.

1. Perencanaan

Proses perencanaan ini bisa disesuaikan dengan keadaan perusahaan. Untuk perusahaan besar misalnya perencanaan manajemen risiko membutuhkan persiapan banyak. Sedangkan perusahaan kecil mungkin hanya memerlukan beberapa spreadsheet yang fokus pada risiko dari beberapa produk.

Artikel Lain : Definisi Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Perencanaan ini dimulai dengan mendaftar risiko yang mungkin terjadi. Kemudian dilanjutkan dengan penilaian risiko mana yang mungkin terjadi dan bagaimana tingkat keberhasilan mengatasi risiko tersebut. Terakhir menentukan rencana tindakan yang akan diambil.

Tujuan perencanaan ini adalah mengidentifikasi risiko utama, memprioritaskan risiko tersebut berdasarkan kecendrungan dan dampak, dan menilai seberapa efektifit kendali saat ini pada risiko yang dihadapi.

Tips manajemen risiko
Gambar Tips manajemen risiko (Central Insurance Companies)

2. Penanganan

Untuk penangan risiko kita bisa menggunakan empat cara yang sama seperti pada proses yang diberikan COSO yaitu menghindar, mengurangi, memindahkan dan menerima.

Artikel Lain : 6 Buku Manajemen Yang Wajib Dibaca

Menangani risiko dengan menghindar bisa sangat efektif bila keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan risiko yang akan diterima. Tapi strategi ini juga tidak bisa digunakan sebagai cara utama karena kita mungkin melewatkan keuntungan besar dari risiko yang kita hadapi. Jadi kita harus tahu secara jelas bagaimana karakteristik dari risiko tersebut dan telah mengujinya dengan bebrapa cara lain.

Cara yang kedua adalah dengan mengurangi risiko yang diterima. Cara ini bisa dibilang paling umum dan cocok pada rentang risiko yang luas. Kita tetap bisa beraktivitas seperti biasa namun dengan bahaya yang berkurang. Namun kekurangannya adalah saat kontrol kita tidak efektif risiko yang kita takutkan bisa terjadi.

Memindahkan risiko ini sering sekali kita gunakan. Risiko dapat dipindahkan melalui asuransi. Properti, kendaraan, rumah yang memiliki risiko seperti hilang, rusak atau terbakar bisa kita pindahkan risikonya ke perusahaan asuransi dengan asuransi yang kita pilih sehingga menjadi lebih aman.

Artikel Lain : Pengertian Manajemen Persediaan, Jenis dan Tujuannya

Dalam kasus risiko yang ringan, langkah terbaik yang bisa kita pilih adalah menerimanya. Untuk risiko yang mendapatkan nilai dampak dan kecendrungan yang rendah, solusi sederhana dan murah akan lebih menguntungkan jika kita menerimanya dan melanjutkan bisnis seperti biasa.

3. Monitoring

Langkah terakhir yang dilakukan adalah monitoring atau mengontrol sistem yang sudah dibuat. Kontrol ini dilakukan mulai dari proses awal, apakah perlu ada modifikasi pada perencanaan atau yang lainnya. Begitu juga pada penanganan agar tetap berjalan dengan baik.

Dengan ketiga langkah ini jalannya manajemen risiko akan lebih efektif. Semua tindakan yang diambil dapat lebih menguntungkan dan minim risiko. Perusahaan pun dapat berkembang dan lebih maju lagi dengan tingkat kerugian yang berkurang.

Artikel Lain : Info Lengkap Manajemen Modal Kerja, Pengertian dan Manfaatnya

Proses Manajemen Risiko

Hal selanjutnya yang menjadi pembahasan adalah proses manajemen risiko yang didalamnya akan terdapat beberapa langkah. Berdasarkan ISO 31000:2009, proses manajemen risiko merupakan bagian yang penting dari manajemen risiko sebab penerapan atas prinsip dan kerangka kerja manajemen  risiko yang telah dibangun. Adapun proses manajemen risiko terdiri atas tiga proses utama, yaitu penetapan konteks, penilaian risiko, dan juga penanganan risiko.

Adapun Penetapan konteks manajemen risiko ini bertujuan guna mengidentifikasi dan mengungkapkan sasaran organisasi, lingkungan dimana sasaran hendak dicapai, stakeholders yang  turut berkepentingan, dan keberagaman kriteria risiko. Hal-hal tersebut tentu saja akan membantu untuk mengungkapkan dan menilai sifat dan kompleksitas dari risiko.

Penetapan konteks manajemen risiko ini juga  erat kaitannya dengan melakukan penetapan tujuan, strategi, ruang lingkup dan juga parameter-parameter lain yang masih berhubungan dengan proses pengelolaan risiko dalam suatu perusahaan.

Proses ini akan menunjukkan kaitan atau pun hubungan antara permasalahan hal yang akan dikelola risikonya dengan lingkungan perusahaan baik itu eksternal maupun internal. Proses manajemen risiko, dan juga ukuran maupun kriteria risiko yang hendak dijadikan standar. Dalam jurnal manajemen risiko, hal ini selalu dibahas.

Itulah informasi mengenai manajemen risiko yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan dan arti penting manajemen risiko.

Nah itulah tadi semua hal mengenai manajemen risiko mulai dari pengertian, langkah-langkah, dan cara mengoptimalkan manajemen risiko. Semoga dapat bermanfaat, saya mohon maaf untuk kesalahan yang ada sekian dan terima kasih.

Jika anda memiliki pertanyaan atau kirtik dan saran mengenai tulisan ini dapat anda sampaikan melalui kotak komentar yang telah disediakan. Terima kasih kembali atas perhatiannya sampai jumpa pada artikel selanjutnya.

Cari Artikel di Sini



Leave a Comment

*

%d bloggers like this: