Manajemen konflik merupakan istilah yang tidak asing bagi pegawai perusahaan. Manajemen konflik adalah sebuah proses aksi dan reaksi yang digunakan oleh pihak yang terlibat konflik atau oleh pihak ketiga dengan cara yang rasional dan simbang. Hal ini dilakukan dalam rangka mengendalikan situasi dan kondisi konflik atau perselisihan yang terjadi antar individu atau beberapa pihak.

Dalam situasi apa pun yang melibatkan lebih dari satu orang, konflik bisa saja terjadi. Penyebabnya bisa saja perbedaan pendapat ataupun tujuan yang berat sebelah. Jika konflik yang ada hanya dibiarkan saja tentu akan memberikan dampak buruk bukan hanya yang ikut konflik tapi juga lingkungan sekitarnya.

Misal pada usaha kecil, di mana keberhasilan sering bergantung pada kekompakan beberapa orang, hilangnya kepercayaan dan produktivitas akibat konflik yang terjadi bisa membunuh bisnis kita. Untuk itu pemilik usaha kecil yang lebih baik dapat menangani konflik sebelum meluas diperbaiki.

Bagaimana cara menanganinya? Caranya bisa kita mulai dengan melakukan manajemen emosi pada diri kita dan juga rekan kerja. Bila masih terjadi konflik  panas bisa kita atasi dengan manajemen konflik. Apa itu manajemen konflik? Sebelum lebih jauh tahu mengenai manajemen konflik, ada bagusnya kita kenali dulu apa sebenarnya konflik itu.

Artikel Lain : Pengertian Manajemen Risiko dan Kerangkanya

Definisi Konflik

Konflik dalam KBBI memiliki arti percekcokan, perselisihan, atau pertentangan. Sedangkan menurut beberapa ahli yang dimuat dalam tulisan jurnal-sdm.blogspot.co.id, konflik memiliki beberapa arti berbeda namun bersifat sama. Berikut ini beberapa pendapat tersebut :

Menurut Nardjana (1994), konflik adalah akibat dari situasi dimana antara keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan bertemu satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.

Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau tingkat stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wijono,1993, p.4).

Artikel Lain : Pengertian Manajemen Risiko Lengkap

Daniel Webster mendefinisikan konflik sebagai persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain atau keadaan dan perilaku yang bertentangan (Pickering, 2001).

Dari pendapat para ahli ini kita bisa melihat satu kesamaan nya yaitu konflik adalah pertentangan. Pertentangan ini paling rentan terjadi pada lingkungan kerja atau sebuah organisasi. Dimana setiap orang memiliki tujuan atau pun cara pandang yang beragam.

Dalam sebuah organisasi konflik yang terjadi bisa kita bedakan menjadi empat kelompok. Seperti konflik vertikal yaitu konflik antara pimpinan dan bawahan, konflik horizontal atau konflik antar karyawan, konflik lini-staf yaitu konflik antar lini, dan konflik peran atau konflik bagi orang dengan peran ganda.

Artikel Lain : Info Lengkap Manajemen Informatika

Terlepas dari itu meskipun cenderung negatif, konflik yang terkelola dengan baik bisa memberikan efek yang positif bagi lingkungan. Misalnya saja persaingan sehat karyawan terkait motivasi kerja mereka, sehingga produktifitas meningkat. Bagaimana cara mengelola konflik?

Definisi Manajemen Konflik

Pengertian Manajemen konflik adalah sebuah pendekatan yang fokus pada proses untuk mengarahkan konflik dalam bentuk komunikasi dari pihak yang terlibat konflik maupun dari pihak ketiga serta bagaimana masing-masing pihak  mempengaruhi kepentingan dan interpretasi.

Konflik dalam organisasi merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat terhindarkan. Bahkan dengan adanya berbagai inovasi dan perubahan pada masyarakat seringkali menyebabkan terjadinya konflik. Apalagi jika perubahan tersebut tidak disertai dengan adanya pemahaman tentang beberapa ide yang sedang berkembang.  

Sebagaimana yang dikutip melalui businessdictionary.com, manajemen konflik adalah praktek mengenali dan menangani perselisihan secara rasional, seimbang dan efektif. Dengan menajamen konflik ini konflik yang ada bisa dikontrol untuk memberikan hasil yang positif dan meminimalkan dampak negatifnya.

Manajemen konflik dalam suatu bisnis biasanya melibatkan komunikasi yang efektif, kemampuan penyelesaian masalah dan keterampilan negosiasi yang baik. Semua ini diperlukan untuk mengembalikan fokus ke tujuan perusahaan secara keseluruhan.

Pengertian Manajemen Konflik Menurut Ahli

Adapun pengertian manajemen konflik menurut para ahli memiliki beberapa definisi yang berbeda, yaitu:

1. Howard Ross

Menurut Howard Ross, manajemen konflik merupakan langkah yang diambil oleh pelaku atau pihak yang terlibat konflik guna mengarahkan perselisihan kepada arah tertentu untuk menghasilkan atau tidak menghasilkan penyelesaian konflik. Dimungkinkan juga manajemen konflik mungkin atau tidak mungkin untuk menghasilkan ketenangan, kreatif, hal positif dan mendapatkan mufakat atau agresif.

2. Minery

Sedangkan menurut Minery, manajemen konflik diartikan sebagai sebuah proses rasional yang bersifat interaktif. Maksudnya adalah proses tersebut terjadi dalam jangka waktu yang terus menerus mengalami perubahan dan penyempurnaan hingga mencapai model yang ideal atau representatif.

Artikel Lain : Manajemen Produksi, Cara Terbaik Optimalkan Produksi

Langkah Dasar Manajemen Konflik

Menurut Stevenin terdapat lima langkah mendasar untuk bisa memahami manajemen konflik secara baik. Seperti pengenalan, diagnosis, menyepakati suatu solusi, pelaksanaan, dan evaluasi. Dengan kelima dasar ini kita bisa lebih mudah menentukan strategi yang tepat dalam menangani konflik.

1. Pengenalan

Langkah ini dilakukan untuk mengenali permasalahan apa yang dihadapi, siapa saja yang terlibat dalam konflik dan bagaimana keadaan sekitar selama konflik. Dengan mengenali aspek-aspek tersebut kita sudah memiliki informasi yang diperlukan.

2. Diagnosis

Informasi yang didapat tadi kemudian dianalisa untuk mengatahui apa penyebab konflik yang terjadi. Kemudian konflik ini termasuk dalam konflik yang seperti apa, apakah konflik horizontal, vertikal atau konflik lain. Tujuan diagnosis ini untuk bisa mendapatkan ‘obat’ dari konflik yang terjadi.

Artikel Lain : Pengertian Manajemen PAUD dan Penerapan Aplikasinya

3. Menyepakati Solusi

Setelah didiagnosis kita bisa menentukan strategi apa yang akan digunakan dalam manajemen konflik. Strategi tersebut kemudian dibicarakan bersama pada pihak yang berkonflik melalui pihak penengah. Jika sudah disepakati maka berlanjut pada pelaksanaan kesepakatan.

4. Pelaksanaan

Dengan kesepakatan yang telah dibuat, pihak-pihak yang terlibat harus menerima dan melaksanakan sebaik mungkin. Sebisa mungkin dari hasil kesepakatan tersebut tidak menimbulkan potensi terjadi konlik lain. Karena itu langkah terkahir yang diperlukan adalah evaluasi.

5. Evaluasi

Langkah terakhir yang tidak kalah penting adalah evaluasi. Dari evaluasi kita bisa melihat bagaimana pelaksanaan kesepakatan tersebut. Apakah ada kemungkinan terjadi konflik baru atau tidak. Langakh ini juga bertujuan mendapatkan pendekatan alternatif untuk konflik lain yang mungkin terjadi.

Artikel Lain : Apa itu Manajemen Rumah Sakit? Peran dan Prospeknya

Tipe Manajemen Konflik

Setelah melalui langkah pengenalan dan diagnosis yang kita lakukan adalah mengelola informasi dari konflik tersebut dan menentukan solusi seperti apa yang sesuai. Dalam materipmii.blogspot.co.id, dituliskan ada 6 tipe pengelolaan konflik yang dapat dipilih dalam menangani konflik yang muncul (Dawn M. Baskerville, 1993:65) yaitu

1. Avoiding

Menghindar biasanya digunakan seseorang atau organisasi yang cenderung untuk menghindari terjadinya konflik. Hal-hal yang sensitif dan potensial menimbulkan konflik sedapat mungkin dihindari sehingga tidak menimbulkan konflik terbuka. Cara ini bisa sangat efektif untuk menjaga lingkungan yang kondusif tanpa konflik.

2. Accomodating

Dengan mengumpulkan dan mengakomodasikan pendapat-pendapat dan kepentingan pihak-pihak yang terlibat konflik, kita bisa mencari jalan keluar permasalahan dengan tetap mengutamakan kepentingan pihak lain atas dasar masukan-masukan yang diperoleh. Namun cara ini masih berpotensi menimbulkan konflik baru sehingga perlu dilakukan evaluasi secara rutin.

Artikel Lain : 7 Kunci Dahsyatkan Potensi Diri (Bag.1)

3. Compromising

Jika akomodasi cenderung memihak pada pendapat salah satu pihak, berbeda dengan kompromi. Kompromi merupakan gaya menyelesaikan konflik dengan cara melakukan negosiasi terhadap pihak-pihak yang berkonflik, sehingga kemudian menghasilkan solusi (jalan tengah) atas konflik yang sama-sama memuaskan atau lose-lose solution. Cara ini paling sering digunakan untuk menyelesaikan sebuah konflik.

4. Competing

Cara ini berarti pihak-pihak yang berkonflik saling bersaing untuk memenangkan konflik, dan pada akhirnya harus ada pihak yang dikorbankan atau kalah kepentingannya demi tercapainya kepentingan pihak lain yang lebih kuat atau yang lebih berkuasa yang biasa disebut win-lose solution. Cara ini efektif digunakan sebagai strategi cadangan karena butuh tenaga ekstra dan juga kurang efektif saat salah satu pihak lebih kuat.

5. Collaborating

Dengan cara ini pihak-pihak yang saling bertentangan akan sama-sama memperoleh hasil yang memuaskan, karena mereka justru bekerja sama secara sinergis dalam menyelesaikan persoalan, dengan tetap menghargai kepentingan pihak lain. Singkatnya, kepentingan kedua pihak tercapai sehingga menghasilkan win-win solution.

Artikel Lain : Manajemen Laba, Strategi dalam Akuntansi

6. Conglomeration (Mixtured Type)

Cara ini menggunakan kelima style secara bersama-sama dalam penyelesaian konflik. Biasanya digunakan saat konflik yang terjadi tidak hanya satu. Dengan Konglomerasi setiap konflik yang ada dapat diselesaikan meskipun akan memakan waktu dan tenaga yang besar.

Tujuan Manajemen Konflik

Setelah mengetahui dan dapat membedakan apa itu pengertian manajemen konflik, selanjutnya anda perlu mengetahui tujuan manajemen konflik itu sendiri. manajemen konflik memiliki tujuan yang beragam yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pelaku konflik maupun bagi organisasi atau perusahaan.

Tujuan manajemen konflik yang pertama adalah untuk mencegah terjadinya berbagai gangguan terhadap anggota organisasi. selain itu, manajemen konflik juga berperan untuk meningkatkan kreativitas anggota organisasi yaitu dengan mengambil manfaat dari terjadinya konflik. Salah satu manfaat manajemen konflik yang tidak kalah penting adalah membangun rasa saling menghormati sesama anggota dalam organisasi serta menghargai keberagaman yang ada.

Dengan tujuan-tujuan manajemen konflik tersebut, diharapkan manajemen konflik juga dapat memberikan manfaat bagi perusahaan maupun bagi organisasi. Jika dilihat dari pengertian manajemen konflik, setiap organisasi akan berorientasi untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang. Salah satu usaha yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah dengan menerapkan manajemen konflik secara baik dan benar.

Manajemen konflik dapat dijadikan sebagai evaluasi sistem. Jika tidak terjadi konflik di dalamnya,  suatu organisasi tidak akan mendapatkan bahan untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi. Dengan adanya konflik tersebut maka perusahaan dapat melakukan identifikasi apakah sebuah sistem yang selama ini diterapkan telah berjalan dengan baik sesuai atau membutuhkan perbaikan.

Manfaat manajemen konflik selanjutnya adalah dapat digunakan untuk mengembagkan kompetensi. Penanganan konflik dengan baik dapat meningkatkan eserta mengembagkan kompetensi bagi sebuah organisasi.

Dengan menggunakan strategi manajemen konflik, maka kemampuan sebuah organisasi untuk menangani konflik internal yang semakin menguat.

Manajemen konflik merupakan sebuah sistem yang harus dijalankan oleh organisasi atau perusahaan. Dengan adanya manajemen konflik, maka konflik yang terjadi dapat memberikan manfaat dan berdampak positif bagi perusahaan.

Jika konflik dalam organisasi tidak diatasi, maka konflik yang terjadi dapat berubah menjadi konflik destruktif dimana pihak yang terlibat konflik akan saling menyalahkan satu sama lain.

Nah itu tadi beberapa cara yang bisa dipilih untuk mengelola dan menyelesaikan suatu konflik. Masih banyak sekali solusi yang bisa digunakan tergantung dengan karakteristik konflik yang terjadi. Harapannya dengan melakukan manajemen konflik ini, pertentangan yang terjadi bisa membawa hasil positif bagi lingkungan sekitar.

Saya cukupkan sampai disini, apabila ada pertanyaan, kritik dan saran, bisa disampaikan melalui kotak komentar yang tersedia. Saya mohon maaf untuk kesalahan dalam penulisan semoga dapat bermanfaat dan sampai jumpa di artikel selanjutnya, terima kasih.

Cari Artikel di Sini