Kisah Umar bin Khatab, Pentingnya Bermimpi

Mimpi – Dalam hal ini mimpi hampir sama dengan cita-cita. Di masa kecil kita pasti kita sering ditanyai tentang apa cita-citamu? Dengan tegas serta tanpa ada keraguan sama sekali kita menjawab ingin jadi guru.

Bahkan waktu kecil kita sering sekali bermimipi bila menjadi guru ingin seperti itu, seperti ini. Akan tetapi di saat kita dewasa ini semakin sulit untuk menjawab pertanyaan yang seprti itu. Bila menjawab pasti ada sutau keraguan yang timbul

Bila anda tidak mempunyai ilmu itu wajar (baca : definisi berilmu), akan tetapi kita ini merupakan kaum terpelajar jadi tak mungkin tidak mempunyai ilmu. Maka jangan ragu untuk menyebutkan mimpi besarmu itu.

Saya ajak anda untu bermimpi? Mangapa harus bermimipi? Mimipi kan bunganya tidur? Apa kitaharus tidur dulu sebelum bermimpi? Bagaiman kita harus maju biala kita tidur, padahal kita sudah terlalu banyak tidur. (baca : nasihat Imam Al Ghazali)

maraih mimpi

mimpi merupakan awal kesuksesan mu (image : google)

Ada sebuah kisah dari sahabt Rosulullah, Umar bin Khatab ra berbincang-bincang dengan bebrapa orang pada zamannya. Umar bin Khatab berbicar, “Berangan-angnalah!”

Maka salah satu orang menjawab: “saya berangan-angan kalu saja saya mepunyai banyak uang, lau saya belanjakan uang tersebut untuk dapat memerdekaan budak dalam rangka untuk meraih ridha Allah”

Oarang lain pun menyahut,”kalau saya mempunyai banayk harta, lalu saya belanjakan fisabilillah.” Lalu yang lain pun menyahut,”kalau saya mengangankan mempunyai kekuatan tubuh yang prima lalu saya abdikian diri saya untuk dapat memberi air zam-zam kepada jamaah haji satu persatu.”

Setalah itu Umar bin Khatab berkata,”saya berangan-anagn kalau saja dalm rumah yang ini ada tokoh seprti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Umair bin Sa’ad dan semacamnya.”

[stop! Bangunlah dan bangkitlah, jangn hanya tidur nanti kebablasan]

Mungkin anada bertanya-tanya dalam hati, mengapa kita harus bermimpi? Bukannya mimpi adalh bunganya tidur? Dan kita bukannya harus realitis ya?

Begini, memang suatu mimpi bisa saja hanya kan menjadi mimpi. Akn tetapi terdapat sebuah hikmah,

“bermimpilah kamu sebelum kamu menjadi pemimpin.” Serta “belajarkalh engakau sebelum menjadi pemimpin.”

Bila kita lihat secara seksama terdapat banyak orang besaryang mana berangkatnya dari seorang pemimpi. Maka jadilah engkau pemimpi besar untuk menjadi pemimpin besar. Dalam sebuah majelis, terdapat seorang syaikh yang mengatakan,

“Laa budda lil qaa-idi an yakuuna lahu ahlam, wa illa la yashluh an yakuuna qaa-idan….. yang ratinya seorang pemimpin harusnya mempunyai mimpi yang banyak, jika tidak dia taka layak menjadi seorang pemimpin.

Memang pada kenyataanya, kita akan kehabisan stok pemimpin kalau tidak ada oarng yang mau da berani untuk bermimpi serta punya cita-cita besar. Mimpi aja tak berani, apalagi memimpin?

Dalam hal ini menjadi seorang pemimpin haruslah menjdai oarang yang cerdas, yaitu berani untuk dapat berfikir mendalui masanya, bahakn terkadang orang lain belum dapat memahaminya. Ia juga harus obsesif.

Mempunyai pikiran serta punya gagasan besar yang mana belum terpikirkan oleh orang lain sebelumnya, seperti halnya yang dilakukan dengan Khidr. Hal-hal yang belum dapat dipahami serta dimengerti oleh Nabi Musa.

Tapi sekarang ini anah, kadang bermimpi saja orang sudah merasa takut apalagi untuk meraihnya. Bear begitu kan?

Berikut penjelasan mengapa pentingnya kita untuk dapat bermimpi, seprti dalam hadist riwayat Muslim dalam Ash-Shahih, II/517 “

“barang siap mati sedangkan ia belum pernah malaksanakan jihad, dan ia tidak bercita-cita untuk berjihad, maka kematiannya pada salah satu cabang kemunafikan.”

Nah apalagi yang kamu tunggu, bermimpilah karena mimpi tak akan membuat mu gagal. Yang membuatmu gagal adalah tak mapu bermimpi serta malaksanakan mimpimu.

Cari Artikel di Sini


Leave a Reply

*

%d bloggers like this: