Syarat dan Proses Pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan

Program BPJS Ketenagakerjaan Jaminan Hari Tua (BPJS TK-JHT) yang dulunya bernama Jamsostek terbukti banyak membantu para pekerja untuk merasa aman dan nyaman menatap masa depannya. Lembaga negara ini memang mempunyai tugas memberikan proteksi kepada para pegawai atau pekerja Indonesia untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dengan mekanisme asuransi sosial yang profesional sehingga semua tenaga kerja Indonesia diharuskan menjadi peserta jaminan sosial tersebut.

Syarat-syarat Pencairan JHT-BPJS

Sekarang, peserta BPJS TK-JHT sudah diperbolehkan megklaim 100% uang JHT-nya dengan prosedur terbaru yang lebih menguntungkan. Peserta BPJS TK-JHT yang masih aktif bekerja juga diperbolehkan mengambil uang JHT-nya dengan ketentuan 10% atau 30% dari total saldo JHT dengan syarat telah memenuhi minimal 10 tahun kepesertaan. Sedangkan bagi peserta BPJS TK-JHT yang sudah berusia 56 tahun atau mengalami cacat total ataupun yang telah meninggal dunia, maka saldo JHT-nya dapat dicairkan secara keseluruhan atau disebut klaim JHT Total.

Aturan tersebut telah berubah per tanggal 1 September 2015 dengan ketentuan bahwa semua peserta BPJS TK-JHT yang sudah berhenti bekerja ditambah masa tunggu satu bulan, sudah bisa mengklaim JHT Total-nya atau klaim JHT 100% sesuai jumlah yang ada di saldonya. Aturan ini diakomodir dalam PP Nomor 60 Tahun 2015 tentang Jaminan Hari Tua. Adapun proses pencairan JHT ini dapat anda simak di ulasan berikut :

1. PENCAIRAN BAGI PESERTA BPJS TK-JHT YANG SUDAH BERHENTI BEKERJA

Peserta BPJS TK-JHT tidak perlu menunggu hingga berusia 56 tahun untuk melakukan klaim 100% saldo JHT-nya. Jadi ketika anda memutuskan untuk resign atau terkena PHK, maka anda bisa mengklaim JHT secara penuh dengan waktu tunggu sekitar 1 bulan saja setelah dinyatakan berhenti bekerja. Beberapa dokumen yang harus anda persiapkan untuk klaim adalah Kartu Jamsostek/ BPJS Ketenegakerjaan, Paklaring/ Surat Pengunduran Diri, KTP/ SIM, Kartu Keluarga, dan Buku Tabungan.

2. PENCAIRAN PESERTA BPJS TK-JHT YANG SUDAH BERUSIA 56 TAHUN

Sedangkan bagi anda yang sudah berumur 56 tahun dan akan mencairkan JHT anda secara penuh, anda harus mempersiapkan dokumen yang sama pula dilengkapi dengan fotocopynya masing masing 1 lembar dan membawa dokumen aslinya saat melakukan pengurusan untuk sekedar diperlihatkan.

3. PENCAIRAN PESERTA BPJS TK-JHT YANG MENGALAMI CACAT TOTAL TETAP

Aturannya masih sama dengan kondisi kepesertaan sebelumnya, hanya saja dokumen yang disiapkan ditambah dengan Surat Keterangan Sakit mengalami cacat total tetap dari Rumah Sakit. Proses pengurusan klaim bagi peserta dengan kondisi ini pun bisa dikuasakan kepada orang lain dengan membawa tambahan Surat Kuasa resmi dari Peserta BPJS TK-JHT.

4. PENCAIRAN PESERTA BPJS TK-JHT YANG MENINGGAL DUNIA

Uang JHT juga bisa diambil secara penuh oleh ahli waris ketika peserta BPJS TK-JHT sudah meninggal dunia. Dokumen yang harus disiapkan sama dengan sebelumnya, ditambah dengan Surat Keterangan Kematian serta Surat Keterangan Ahli Waris yang dilegalisir.

5. PENCAIRAN PESERTA BPJS TK-JHT YANG AKAN MENINGGALKAN INDONESIA

Untuk peserta yang akan mengklaim dengan kondisi ini, maka diperlukan tambahan Surat Keterangan habis kontrak/ Surat Keterangan mutasi ke luar negeri/ Surat Keterangan berakhirnya masa tugas di Indonesia disertai dengan Paspor dan juga Visa.

Demikian informasi syarat dan ketentuan klaim BPJS TK-JHT 100% yang terbaru. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda perihal klaim jaminan sosial sehingga dapat membantu meringankan kebutuhan anda. Terimakasih.

Cari Artikel di Sini


Syarat dan Proses Pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan | Admin | 4.5
%d bloggers like this: