Cara Optimalkan Waktu Menjadi Lebih Bermanfaat

Manajemen Waktu – Pengertian manajemen waktu adalah cara mengelola agar pemanfaatan waktu yang dimiliki dapat terasa secara efisien dan efektif manfaatnya

Dalam artikel sebelumnya kita sudah tahu apa itu ‘Aku Sosial’, sebuah posisi atau peran diri untuk memberikan rasa penerimaan dalam kehidupan masyarakat. Lalu bagaimana agar kita bisa memberikan rasa tersebut untuk lingkungan sekitar? Dalam tulisan ini akan kita ketahui bersama.

Bisa memberikan rasa nyaman dan diterima untuk semua orang memang sangat berat. Pasti ada saja orang-orang yang tidak bisa menerima apa yang kita lakukan. Sebagai gambaran misalnya dalam sistem lingkungan yang ‘buruk’, orang yang berbuat baik justru akan ditindas atau bahkan diusir. Karena apa yang dilakukannya akan merusak sistem yang ada.

Itu baru pada perbuatan yang berdampak baik bagi dirinya sendir. Bagaimana jika orang tersebut ingin mengubah sistem buruk tersebut?. Tentu beban yang diterima lebih berat dan cobaan yang dirasakan sangat banyak. Saat ini terjadi, banyak orang menyerah dan hanya mengikuti arus.

Akhirnya orang hanya beralih dengan kesibukan lain dan mencari pembenaran atas kesalahan karena keadaan dan kemampuan yang tidak mendukung. Padahal dalam QS al-ashr disebutkan “…watawaa shaubilhaq watawaa shaubish-shabr..” saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.

Artikel Lain : Definisi Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Pada potongan ayat tersebut menunjukan bagaimana keshalihan sosial seharusnya. Energi untuk memberi. Seperti air, ia suci lagi menyucikan. Manjadi hartawan ia entrepreneur juga dermawan. Sebagai pejabat ia jujur dan budiman. Begitulah islam mengajarkan, menjadi pribaadi shalih dengan memberikan manfaat. Layaknya air yang suci bagi dirinya dan bermanfaat bagi lainnya.

Sebagaimana air, orang shalih akan menularkan keshalihannya pada lingkungan jika dikelola, diorganisir dalam amal jama’i, dan kolektif untuk tujuan besar dan mulia. Jika di ibaratkan akan seperti gelombang besar yang memberikan perubahan jelas pada lingkungannya.

Mengoptimalkan Waktu

Kalau kita urutkan lagi cerita rasulullah, beliau mengalami kepahitan dan cobaan yang banyak bahkan sejak kecil. Mulai dari yatim piatu, di tinggal orang-orang tercinta hingga dimusuhi seluruh Mekkah. Disinilah keistimewaannya, dengan semua hal tersebut rasul dapat berempati pada penderitaan yang dialami manusia.

Kemudian pada saat wahyu pertama turun, semua waktu rasulullah terkuras untuk berdakwah. Beliau mengoptimalkan masa 23 tahun menjadi waktu untuk berjihad sepanjang hayat. Lalu bagaimana dengan kita untuk mendapat keberkahan waktu tersebut?

Rasulullah mencontohkannya dengan mengaktualisasikan semua potensi untuk berkhidmah, melayani, dan memimpin. Karena pada prinsipnya setiap kader bangsa adalah ‘pelayan’ bagi bangsanya. Sehingga setiap waktunya dicurahkan untuk melayani bangsanya.

Artikel Lain : 3 Tanggungjawab Manajer Dalam Mengelola Sistem

Untuk itu penting membangun prestasi dengan ketulusan bukan ketenaran. Prestasi bukan popularitas. Poplaritas juga bukanlah prestasi. Karena orang-orang yang dikagumi, disanjung belum tentu dibela. Sehingga keikhlasan harus mengiringi setiap perbuatan.

Seseorang menjadi luar biasa apabila keshalihannya bisa ditransformasikan dalam ranah sosial. Pribadinya hidup dan bisa menghidupkan hati yang mati, menggugah jiwa yang terlelap, hingga pada puncaknya mampu membuka pintu kebaikan bagi dirinya maupun orang lain.

Ia bukan hanya hidup untuk dirinya sendiri tetapi memberikannya kepada orang lain juga. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diantara kamu yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia bersegera memberikan manfaat kepadanya”. (Riwayat Muslim dari Jabir ra.)

Artikel Lain : Pain Management Mudah Tanpa Obat-obatan

Nah itulah cara bagaimana kita bisa mengoptimalkan waktu seperti yang dicontohkan rasulullah. Semoga dapat bermanfaat dan jika ada pertanyaan dapat ditanyakan melalui kotak komentar. Saya mohon maaf untuk kesalahan yang ada sekian dan terima kasih.

Referensi Tulisan : 

  • Solikhin Abu ‘Izzuddin, Zero to Hero, halaman 252-257.

Cari Artikel di Sini


Leave a Reply

*

%d bloggers like this: