7 Kunci Dahsyatkan Potensi Diri (Bag.1)

Manajemen Potensi Diri – Pengertian manajemen diri adalah proses atau pengelolaan untuk memaksimalkan potensi diri menuju lebih baik

Dalam artikel sebelumnya kita sudah mengetahui tentang seperti apa manusia yang bermanfaat. Mereka yang mampu memberikan manfaat tidak hanya pada diri sendiri tapi juga pada orang lain merupakan sebaik-baiknya manusia.

Mereka diibaratkan air yang suci lagi menyucikan hal-hal lain yang berada disekitarnya. Berpengaruh pada lingkungan entah itu kecil ataupun besar. Mengoptimalkan waktu untuk melakukan yang terbaik selama hidupnya untuk orang lain.

Nah dalam memanfaatkan waktu seefektif mungkin harus kita sertai dengan menjadi pribadi yang luar biasa. Bagaimana caranya? Jawabannya bergantung pada diri kita sendiri. Karena pada dasarnya kita semua memiliki potensi menjadi manusia yang bermanfaat.

Artikel Lain : 9 Manfaat Manajemen Logistik dan Pengertiannya

Perilaku kita sebenarnya mempengaruhi potensi tersebut. Apakah akan bangkit dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik atau hanya bibit terendam. Karena itu kita memerlukan tujuh kunci yang membantu kita untuk menjadi pribadi dengan prestasi yang luar biasa.

7 Kunci Menjadi Aku Sosial

Sebelum mengetahui apa saja kunci tersebut, kita harus memahami bahwa ketujuh kunci ini akan terasa lebih bermakna kalau kita menjadikannya sebuah amal yang tertata rapih. Sehingga mampu menjadi sebuah keshalihan sosial, kontribusi optimal dan kontinue, serta memotivasi untuk melahirkan karya-karya besar.

Ketujuh kunci ini juga sekaligus otokritik, dan introspeksi diri, ‘apakah aku sudah memiliki ketujuh kunci ini?’. Hal ini juga bagian dari inspirasi dan kualitas diri yang selalu memenuhi ruang hati para pahlawan sejati, untuk dirinya dan orang lain sekitarnya. Berikut ini ketujuh kunci tersebut :

  • Atsbatuhum Mauqiifan – Bersikap Kokoh
  • Arhabuhum Shadran – Berlapang Dada
  • A’maquhun Fikran – Berpikiran Dalam
  • Ausa’uhum  Nazhhran – Cara Pandang yang Luas
  • Ansyatuhum ‘Amalan – Rajin Amalannya
  • Aslabuhum Tanzhiman – Terorganisir
  • Aktsaruhum Naf’an – Bermanfaat Banyak

Artikel Lain : 3 Tingkatan Manajemen Perubahan, Pengertian dan Tugasnya

Atsbatuhum Mauqiifan

Mereka yang paling kokoh sikapnya, secara bahasa itulah arti dari atsbatuhum mauqiifan. Menjadi shalih secara sosial berarti harus kokoh dan mandiri. Kokoh dari berbagai guncangan yang menjatuhkan diri kita dari perbuatan baik yang kita lakukan.

Allah pun memberikan jaminan pada QS Fushshilat ayat 30, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ” Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Kekokohan yang dimaksudkan dapat dilihat dan diimplementasikan melalui berberapa hal berikut :

  1. Kekokohan maknawiyah : Memiliki kekuatan ruhani dan spritiual yang luar biasa dengan iman dan amal ibadah sebagai pusatnya.
  2. Kekokohan fikriyah : Prinsip, pemikiran, argumentasi, referensin dan inspirasi pustaka yang komperhensif sehingga mampu menggerakan pemikiran yang solutif serta cepat.
  3. Kekokohan da’wiyah : Sikap berdakwah yang siap dalam keadaan apapun. Mampu mengajak dan membangun jaringa sosial yang luas dengan semua kalangan dan tokoh kunci.
  4. Kekokohan Jasadiyah : Memiliki fisik prima, bugar, dan segar untuk menjadi kekuatan saat orang lain membutuhkan.
  5. Kemandirian finansial : Memiliki  sumber-seumber dana yang halal dan barokah untuk bisa menyantuni orang yang membutuhkan.

Artikel Lain : 5 Proses Dasar Manajemen Proyek

Arhabuhum Shadran

Untuk menjadi orang yang cerdas dan shalih secara sosial kita perlu menjadi orang yang paling lapang dadanya. Lapang dada dalam artian sabar, ridha, optimis, tidak mempersulit diri dan orang lain, memudahkan, menggembirakan, membuka diri, menerbar kebaikan dan senyuman seperti yang dicontohkan rasulullah.

Potret aplikatif dari arhabuhum shadran bisa kita lihat dalam bentuk sikap seperti :

  1. Menahan diri dan emosei ketika marah.
  2. Menguasai keadaan, tidak terbawa keadaan.
  3. Berpikir positif dan mendoakan orang lain pada kebaikan.
  4. Berpikir alternatif dan berbeda untuk mendapatkan solusi cerdas.
  5. Memandang persoalan dari luar dalam dan memahami akar persoalannya.
  6. Berpikir visioner jauh kedepan.
  7. Memanfaatkan momentum keburukan menjadi kebaikan.
  8. Mengasah pengalaman untuk menghasilkan sikap bijak dan empati.
  9. Lapang dada dengan kebodohan orang lain, tidak gampang menyalahkan malah membimbing dan mengarahkan.
  10. Selalu berharap pada kebaikan.

A’maquhum Fikran

A’maquhum Fikran, merekalah yang paling dalam pemikirannya. Kita perlu membiasakan diri untuk berpikir, merenungkan, mengamati, untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang rinci, al fahmu ad daqiq. Kepahaman ini akan melembutkan jiwa, memiliki rasa takut dan harap secara proposional.

Artikel Lain : Inilah Caranya Manajemen Pemeliharaan Ternak Unggas

Bagaimana cara menghadirkan pribadi yang A’maquhum Fikran ini? Ada beberapa langkah praktis diantaranya :

  1. Berpikir lancar; mengajukan banyaka pertanyaan, ide, gagasan, alternatif dan solusi.
  2. Berpikir luwes; menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang berangkat dari fleksibilitas konsep dan sudut pandang yang berbeda.
  3. Berpikir orisinal; mampu melahirkan gagasan, ide yang unik, asli, baru, dan cerdas lebih dulu dari orang lain.
  4. Berpikir evaluatif; mampu membuat penilaian dari berbagai konsideran yang menyeluruh untuk menjadi bahan pengambilan keputusan.
  5. Berpikir kritis; mempertanyakan berbagai hal dari semua sudut pandang dan kemungkinan untuk mendapatkan kesimpulan.
  6. Berpikir imajinatif; mampu membayangkan permasalahn dan solusi pada sesuatu yang belum pernah terjadi sebagai bentuk antisipasi.
  7. Berpikir detektif; mampu mempelajari, mendeteksi, merasakan berbagai kejanggalan yang terjadi.
  8. Verifikasi; memilah, memilih, mengelompokan kejanggalan yang terlihat lalu dipetakan secara tepat.
  9. Berpikir analitik; menguraikan analisa sebab akibat dari kejanggalan dan keadaan untuk menjadi bekall dalam memutuskan.
  10. Berpikir sintesis; mempu menghubungkan berbagai hal untuk menentukan langkah berikutnya.
  11. Berpikir antisipatif; mampu menyediakan berbagai antisipasi dari berbagai kemmungkinan.
  12. Berpikir Integral; meihat persoalan secar utuh.
  13. Berpikir sensitif ; mampu membangun kepekaan terhadap berbagi peluang.
  14. Berpikir perubahan; berusaha mengubah mengatasi dan mencari pemecahan dari masalah.
  15. Berpikir gagal; menyiapkan diri dengan berbagai rencana apa bila terjadi kegagalan.

Nah itu baru tiga dari tujuh kunci untuk menjadi pribadi yang shalih secara sosial. Kempat kunci lainnya aka kita bahas dalam artikel selanjutnya. Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat terima kasih. Sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya.

Saya mohon maaf atas kesalahan yang ada dalam penulisan, semua karena keterbatasan saya sebagai manusia. Apabila ada pertanyaan, kritik atau saran mengenai tulisan bisa anda sampaikan melalui kotak komentar yang tersedia. Atas perhatiannya terima kasih.

Referensi Tulisan : 

  • Solikhin Abu ‘Izzuddin, Zero to Hero, halaman 257-268.

Cari Artikel di Sini


Leave a Reply

*

%d bloggers like this: