Macam-Macam Zakat dan Contoh Cara Menghitungnya

Bagi seorang muslim yang telah mampu secara ekonomi tentunya mempunyai kewajiban untuk menyisihkan sebagian hartanya bagi golongan orang orang yang berhak menerimanya, baik itu melalui panitia zakat ataupun dibagikan sendiri kepada golongan orang yang berhak.

Zakat hukumnya adalah wajib apabila seorang muslim mampu secara ekonomi dan mempunyai harta yang telah mencapai batas minimal membayar zakat (nisab). Syarat seseorang dinyatakan wajib mengeluarkan zakat adalah Islam, merdeka, berakal, baligh, dan hartanya telah memenuhi ambang batas minimal (nisab).

Adapun syarat nisab adalah :

  1. Harta yang akan digunakan untuk berzakat, merupakan harta diluar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seseorang seperti halnya pakaian, tempat tinggal, alat yang digunakan untuk bermata pencaharian, kendaraan, ataupun makanan.
  2. Harta yang akan digunakan untuk berzakat telah dimiliki selama 1 tahun (haul) terhitung dari awal mula hari kepemilikan nisab, kecuali zakat dalam bentuk harta pertanian dan buah-buahan yang diambil saat panen dan harta karun yang diambil saat ditemukannya.

RUMUS PERHITUNGAN

Secara umum, terdapat tiga jenis zakat, yaitu zakat fitrah, zakat profesi atau pekerjaan, dan zakat maal.

1. Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat berupa makanan pokok, contohnya adalah beras. Perhitungannya adalah sebagai berikut. Per orang 3,5 liter beras x harga beras di pasaran. Misalnya, harga beras rata rata di pasaran sebesar Rp 10.000 per liter, maka zakat fitrah yang dibayarkan setiap orang adalah sebesar 3,5 x 10.000 = Rp 35.000,00. Jika dihitung dari beratnya, maka zakat fitrah yang dikeluarkan per orang sebesar 2,5 kg x harga beras di pasaran.

2. Zakat profesi atau pekerjaan

Terdapat 3 cara untuk menghitung jenis zakat profesi/ pekerjaan ini, yaitu diqiaskan dengan zakat uang secara penuh, diqiaskan dengan zakat hasil pertanian secara penuh, atau menggunakan qias yang mirip dengan zakat uang dan hasil pertanian.

3. Zakat maal (harta kekayaan)

Zakat ini dikeluarkan untuk pembayaran zakat dari sejumlah harta kekayaan yang dipunyai oleh individu yang telah memenuhi syarat mengeluarkan zakat. Rumusan perhitungannya adalah sebagi berikut. Untuk zakat maal adalah 2,5 % x jumlah harta yang telah tersimpan selama jangka waktu 1 tahun.

Jika yang dipunyai adalah emas, maka cara penghitungannya adalah 85 x harga emas yang ada di pasaran. Contohnya, umi memiliki tabungan RP 100.000.000,00, deposito Rp 200.000.000,00, satu rumah yang dikontrakkan dengan nilai mencapai Rp 500.000.000,00, serta emas perak dengan nilai Rp 200.000.000,00. Total hartanya adalah Rp 1.000.000.000,00 dan sudah mencapai haul (dimiliki sejak 1 tahun yang lalu).

Jika harga emas sebesar Rp 250.000,00 per gram, maka batas nisab zakat maal adalah 2,5 % x (Rp 250.000 x 85) = 2,5 % x Rp 21.250.000,00, karena harta umi telah melebihi batas nisab, maka ia harus membayarkan zakatnya sebesar Rp 1.000.000.000 x 2,5 % yaitu Rp 25.000.000,00 per tahunnya.

Harta yang dapat dibayarkan dalam zakat maal berupa emas, perak, hasil pertanian yang tidak digunakan untuk kebutuhan sehari hari, binatang ternak, uang simpanan, benda untuk usaha, dan juga harta temuan. Masing-masing benda tersebut mempunyai nisabnya masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya tergantung dari golongan benda yang digunakan untuk berzakat.

Berzakat dapat menjadi sarana untuk mensucikan diri dan memenuhi kewajiban sesuai dengan syariat Islam bagi orang orang muslim yang telah memenuhi syarat. Untuk itu, hendaknya anda dapat menunaikan zakat apabila memiliki harta kekayaan yang lebih dan telah memenuhi syarat untuk berzakat.

Cari Artikel di Sini


Leave a Reply

*

%d bloggers like this: