Contoh Soal Perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) & Cara Menyelesaikan

Harga pokok penjualan merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam rangka menghasilkan sebuah produk sampai dengan produk yang bersangkutan siap untuk dijual kembali. Secara singkat harga pokok penjualan dapat diartikan sebagai seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi suatu barang tertentu dan jasa tertentu yang berkaitan langsung dengan berbagai aktivitas dan proses dalam pembuatan produk berupa barang dan jasa yang siap untuk dijual. Harga pokok penjualan ini lebih dikenal dalam ilmu akuntansi dan disingkat dengan HPP.

Pada artikel kali ini kami akan berusaha memberikan contoh soal dan juga pengerjaan tentang perhitungan harga pokok penjualan (HPP). HPP atau Cost of Goods Sold mempunyai rumus yang cukup sederhana, yaitu  :

Harga Pokok Penjualan = Biaya Barang Persediaan + Biaya Overhead

Biaya Barang Persediaan = (Persediaan Awal + Pembelian) – Persediaan Akhir

Pembelian = (Pembelian + Ongkos Kirim/ Ongkos Angkut) – Potongan Harga – Pengembaian atau Return

CONTOH KASUS

UD Prima Furniture sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan furnitur yang mempunyai toko di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Yogyakarta. Pada tanggal 1 Maret 2015 atau awal bulan Maret 2015, UD Prima Furniture menghitung mempunyai persediaan barang berupa furniture dengan jumlah nilai 1.000.000 rupiah.

Sepanjang awal bulan Maret hingga berakhir Bulan Maret 2015, UD Prima Furniture membeli kembali barang persediaan yang diperdagangkan di tokonya pada para pengrajin furniture sejumlah 48.000.000 dengan tambahan biaya kirim atau ongkos kirim sejumlah 1.000.000 rupiah ditanggung oleh UD Prima Furniture.

Di bulan yang sama, UD Prima Furniture juga mencatat adanya transaksi penjualan barang dagangan sejumlah 65.000.000 rupiah. Sedangkan pada akhir bulan Maret, tercatat beberapa aktivitas transaksi berupa :

  1. Membayar biaya listrik 350.000 rupiah.
  2. Membayar biaya PAM air sebesar 50.000 rupiah.
  3. Membayar biaya sewa lapak kepada tenant sebesar 10.000.000 rupiah.
  4. Membayar upah karyawan sebesar 800.000 rupiah.
  5. Membayar biaya ongkos kirim kepada pelanggan sebesar 500.000 rupiah.

Saat dilakukan perhitungan fisik, saldo akhir dari jumlah persediaan barang yang ada pada UD Prima Furniture menunjukkan angka 300.000 rupiah saja berupa lemari kecil. pertanyaannya adalah :

  1. Berapa HPP dari UD Prima Furniture pada Bulan Maret 2015 ini?
  2. Berapa jumlah laba kotor dari UD Prima Furniture pada bulan Maret 2015?

JAWABAN

1. HPP dari UD Prima Furniture pada Bulan Maret 2015, dihitung dengan cara :

HPP = Biaya Barang Persediaan + Biaya Overhead

Biaya Barang Persediaan = Persediaan awal + Pembelian – Persediaan Akhir

= 1.000.000 + (48.000.000 + 1.000.000) – 300.000

= 1.000.000 + 49.000.000 – 300.000

= 49.700.000 rupiah

Untuk biaya overhead yang dipakai maka harus dipilih pilih terlebih dulu. dari kasus diatas, yang termasuk dalam biaya overhead adalah ongkos kirim furniture dari toko UD Prima Furniture ke rumah pelanggan sebesar 500.000 rupiah. Maka dari itu, perhitungannya adalah :

HPP = Biaya Barang Persediaan + Biaya Overhead

= 49.700.000 + 500.000

= 50.200.000 rupiah

2. Laba kotor UD Prima Furniture pada Bulan Maret 2015 adalah sebagai berikut :

Laba kotor = Penjualan – HPP

= 65.000.000 – 50.200.000

= 14.800.000 rupiah

Perhitungan Harga Pokok Penjualan tersebut cukup mudah bukan. Namun, tetap dibutuhkan kehati hatian dan ketelitian yang tinggi untuk dapat menentukan HPP dan Laba Kotor yang dihasilkan dari sebuah perusahaan dagang. Untuk itu, seorang akuntan atau orang yang bertugas membuat neraca dan laporan keuangan haruslah orang yang cermat, teliti, dan memahami ilmu akuntansi dengan baik dan benar.

Cari Artikel di Sini



Leave a Reply

*

%d bloggers like this: