Bangunkan Keshalihan Sosialmu

Manajemen Diri – Pengertian manajemen diri adalah upaya agar mamapu mengarahkan diri menuju arah yang lebih baik

Manusia merupkan makhluk sosial, ya kita adalah makhluk sosial yang itdak bisa hidup bahagia tanpa orang lain. Penjual barang dagangannya tidak akan laku tanpa ada pembeli. Suami istri akan kesulitan bahagia tanpa kehadiran anak-anak atau keluarganya. Semua ini bukti manusia adalah makhluk yang bergantung pada orang lain.

Allah juga telah menciptakan segala sesuatu secara berpasangan baik secara langsung kodrat nya atau pun tidak. Laki-laki dengan perempuan, sehat dengan sakit, baik dan buruk, ayah dan ibu, juga hidup dan mati. Selain berpasangan Allah pun mencitakan segala sesuatu secara beragam. Jadi memang sudah kodratnya kita, manusia, untuk bisa hidup berdampingan bersama dalam lingkungan sosial  yang berbeda-beda.

Lalu bagaimanakah kita berperilaku sosial seharusnya? Bagaimana kita membangun hubungan horizontal hablum minannaas? Dalam artikel ini kita akan belajar dan merenungkan bersama bagaimana membangun sebuah keshalihan sosial agar bisa hidup berdampingan dengan orang lain.

Artikel Lain : Ingin Bengkel Maju? Perhatikan Tips Berikut

Belajar Menjadi “Aku Sosial”

Menurut Anis Matta dalam bukunya Model Manusia Muslim pada halaman 26-27, ada cara memandang peran diri yang bisa kita renungkan. Pertama Aku Diri artinya memahami diri sendiri sehingga mendapat ketenangan. Kedua Aku sosial dimana kita memberikan rasa kenyamanan atau penerimaan dalam masyarddsdsakat. Ketiga Aku Ideal yaitu bagaimana kita menjadi benar sebenar-benarnya.

Peranan diri yang memberikan dampak cukup terlihat dan terasa oleh lingkungan sekitar tentu saja aku sosial. Saya teringat dengan nasihat ibu saya yang dikutip dari hadits rasul yaitu sebaik-baiknya orang adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain, jangan dengan hadirnya kita orang lain terganggu dan ketidak hadiran kita orang lain berbahagia dan merasa lebih nyaman.

Disitulah peran penting dari menjadi aku sosial. Dari Sayyid Quthub dalam kitab Afraah Ar-Ruuh disebutkan “Manakala nilai hidup ini hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi kita bahwa kehidupan kecil dan singkat. Yang dimulai sejak kita memahami arti hidup dan berakhir hingga batas umur kita. Tetapi apabila kita hidup juga unutk orang lain maka jadilah hidup ini bermakna panjang dan dalam. Bermula dari adanya kemanusiaan itu sendiri dan berlanjut sampai kita meninggalkan dunia ini”.

Artikel Lain : Cara Mengorganisasi Potensi Diri

Dari nasihat beliau kita bisa merasakan bahwa hidup akan lebih bermakna jika kita juga hidup untuk orang lain. Hidup kita seakan memiliki arti untuk orang lain bahkan akan selalu dikenang hingga kita mati. Sama seperti tokoh-tokoh besar dalam sejarah seperti Mahatma Gandhi, Bunda Teresa dan Nabi Muhammad SAW yang meskipun telah meniggal lama beliau tetap dikenang bahkan menjadi panutan berprilaku.

Mahatma Gandhi dikenang karena jasanya untuk hak-hak orang India. Bunda Teresa dikenang karena aksi kemausiaan dan memperjuangkan hak-hak orang miskin tak berdaya. Baginda Rasulullah Muhammad SAW dengan begitu banyak jasa bagi pertumbuhan islam dan perbaikan akhlak kaum jahilliyah dijadikan panutan bagi umat islam. Terutama dengan kecintaan pada umatnya hingga akhir hayatnya pun beliau memikirkan umatnya.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah merawat seorang yahudi tua yang buta. Beliau merawat orang tua ini dengan penuh kasih sayang meskipun setiap hari pekerjaan orang ini hanyalah mengumpat rasul. Ia tidak tahu bahwa yang merawatnya dengan penuh kasih sayang itu adalah orang yang selalu ia hina. Hingga akhirnya rasul wafat dan ia diurus oleh sahabat barulah ia mengatahui bahwa selama ini yang merawatnya dalah rasulullah.

Artikel Lain : 3 Level Tingkatan Manajemen

Dari penggalan cerita tersebut kita bisa meneladani banyak sifat teladan diantaranya kasih sayang, pemaaf, cinta sesama manusia dan paling penting ikhlas. Semua sifat tersebut dibutuhkan untuk menjadi aku sosial. Selain itu perbuatan beliau beliau ini juga merupakan bentuk  dari aku sosial.

Jadi pada intinya menjadi aku sosial adalah mampu memahami lingkungan dan bertindak sesuai keadaan sehingga terjadi keselarasan dalam lingkungan. Tapi dalam prakteknya memang tidak semulus bayangan kita, tetap akan ada hambatan terjadi. Ketika hal itu terjadi bagaimana kita menyikapinya lalu bagaimana menjadi aku sosial secara utuh?

Artikel Lain : Apa itu Manajemen Biaya?

Nah jawabannya akan kita ketahui pada artikel selanjutnya. Saya mohon maaf atas kesalahan yang ada dan apa bila ada pertanyaan dapat ditanyakan melalui kotak komentar yang tersedia. Dari saya cukup sekian semoga dapat bermanfaat dan terima kasih.

Referensi Tulisan :

Solikhin Abu ‘Izzuddin, Zero to Hero,hal 250-252.

Cari Artikel di Sini


Bangunkan Keshalihan Sosialmu | Admin | 4.5
%d bloggers like this: